Asosiasi Mahasiswa Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

MAU EKSIS DI JAGAD KESEHATAN? BACA INI DULU GIH!

Himpunan Mahasiswa Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mempersembahkan:
“LOMBA FOTO DAN ARTIKEL KESEHATAN”
Tema Lomba: “THIS IS PUBLIC HEALTH AREA”

Ketentuan Umum:

v  Peserta merupakan mahasiswa D3/Vokasi dan S1 Reguler/Ekstensi/Paralel yang terdaftar sebagai mahasiswa aktif di universitasnya dengan bukti hasil scan kartu mahasiswa yang dilampirkan bersama karya yang dikirim.

v  Peserta hanya diperbolehkan mengirim satu karya di tiap kategori lomba. Satu karya (foto maupun artikel) merupakan hasil karya satu orang dan orisinal buatan peserta yang belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis.

v  Panitia dan juri tidak menerima korespondensi dalam bentuk apapun sehubungan dengan lomba.

v  Peserta yang mengikuti lomba berarti tidak berkeberatan dengan seluruh ketentuan yang dibuat oleh panitia.

v  Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

v  Peserta wajib mengirimkan sebuah foto dan/atau artikel yang bertema:

This is Public Health Area” paling lambat pada tanggal 15 November 2011 pukul 23.59 WIB.

v  Peserta mengirimkan softcopy foto maupun artikel ke peteakk2011@gmail.com dengan subjek email LOMBA FOTO/ARTIKEL_nama peserta_No.HP.

v  Pemenang akan diumumkan pada tanggal 25 November 2011 di acara puncak PETE AKK 2011

Ketentuan Lomba Fotografi:

v  Foto didapat di lingkungan kampus maupun di lingkungan kehidupan sehari-hari.

v  Foto dilampirkan nama jelas, deskripsi singkat tentang foro, serta jenis kamera yang
digunakan untuk mengambil gambar tersebut.

v  Foto dikirimkan dalam format softcopy (dalam bentuk JPG/JPEG dengan ukuran file minimal 3MB/foto) dan hardcopy ke alamat: Balai Kegiatan Mahasiswa Lt. 2 FKM UI, Beji, Depok, Jawa Barat 16424 paling lambat tanggal 15 November cap pos.

Ketentuan Lomba Artikel Kesehatan:

v  Artikel berisi telaah kritis dengan disertai solusi dari permasalahan tersebut.

v  Artikel diketik di kertas A4, Font Times New Roman 12pt spasi 1,5 dengan marjin atas-kanan-bawah 3 cm dan marjin kiri 4 cm, minimal 600 kata. Karya ditulis sesuai EYD dan tidak mengandung unsur pornografi/pornoaksi, bahasa vulgar, dan pertentangan SARA.

Total hadiah jutaan rupiah untuk juara 1,2 dan 3 plus sertifikat dan merchandise menarik!

Info lebih lanjut:
Afit: 085722787942
Putri: 08999180094
Sunny: 08193222647

Advertisements

LOGO

Ontario, Kanada, Skizofrenia adalah bahasa medis untuk gangguan jiwa yang oleh banyak orang dinamai gila. Sering berhalusinasi, paranoia dan seolah bicara dengan dengan pihak lain adalah satu ciri Skizofrenia. Peneliti menemukan pengguna rokok ganja dalam jangka panjang berisiko kena Skizofrenia.

Ganja merupakan zat terlarang yang paling sering disalahgunakan dan sering dipakai dengan cara dihisap seperti rokok. Sedangkan paranoia adalah salah satu efek samping yang paling tidak menyenangkan dari ganja.

Penelitian yang dilakukan Steven Laviolette di University of Western Ontario, Kanada menunjukkan bahwa aktivitas di otak amigdala basolateral terlibat dalam pengaruh ganja terhadap paranoia.

Hal tersebut berarti ganja sebenarnya meningkatkan rasa takut yang menyebabkan otak melompat pada pengalaman tertentu yang berhubungan dengan rasa takut. Seperti dilansir dari Epharmapedia, Senin (26/9/2011), hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience.

Menariknya, para peneliti juga menemukan ganja juga dapat mencegah rasa takut. Mekanisme kerja obat mirip ganja tersebut dengan menonaktifkan aktivitas di wilayah yang disebut korteks prefrontal sebelum mengeksposnya terhadap kejutan.

Korteks prefrontal merupakan tingkat otak yang lebih tinggi dan merupakan daerah yang terlibat dalam fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, tanggapan, mengendalikan, dan impuls.

Para peneliti menunjukkan bahwa kedua daerah otak yang dipelajari merupakan daerah yang terlibat dalam patologi dari skizofrenia. Dan bahwa pemahaman interkoneksi daerah tersebut dapat mengarah pada pengobatan yang lebih baik untuk gangguan ini.

“Kami tahu ada kelainan di kedua amigdala dan korteks prefrontal pada pasien yang memiliki skizofrenia, dan kita sekarang tahu daerah-daerah otak yang sama sangat penting untuk efek dari ganja dan obat cannabinoid lainnya pada pengolahan emosional,” kata Laviolette.

Penelitian tersebut dilakukan pada tikus-tikus laboratorium. Ketika tikus diberi obat yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor cannabinoid, bahkan ketika menerima kejutan kecil sudah cukup untuk menyebabkan tikus-tikus tersebut terdiam.

Tikus-tikus tersebut terpaku karena rasa takut dan kemudian terpengaruh oleh desain kandang dan aroma yang terkait. Tanpa pemberian obat seperti ganja, guncangan kecil tidak akan memiliki efek yang sama.

sumber : detikHealth.com

Jakarta, Umumnya banyak orang yang belum terlalu peduli dengan ukuran pinggangnya. Tapi memiliki ukuran pinggang yang besar bisa berisiko terhadap berbagai penyakit. Apa saja itu?

Para peneliti menemukan bukti bahwa ukuran pinggang yang besar bisa menjadi prediktor kesehatan yang buruk, karena mempengaruhi kesehatan seluruh tubuh mulai dari kepala sampai kaki.

Berikut ini beberapa penyakit yang risikonya meningkat jika memiliki ukuran pinggang besar, seperti dikutip dari Askmen, Senin (26/9/2011) yaitu:

1. Gagal jantung
Studi baru menunjukkan ukuran pinggang yang besar memicu terjadinya gagal jantung diusia setengah baya. Bahkan jika nilai indeks massa tubuh (IMT) normal, tapi ukuran pinggangnya besar bisa membuat kesehatan jantung memburuk.

2. Restless leg syndrome
Studi yang diterbitkan pada 7 April 2009 di edisi Neurology menunjukkan orang dengan lingkar pinggang besar lebih mungkin mengalami restless leg syndrome. Hal ini akan memicu terjadinya kurang tidur sehingga mengganggu kinerja dan menurunkan kualitas hidup.

3. Penyakit periodontal
Risiko penyakit periodontal ini melibatkan peradangan jaringan di sekitar gigi. Peneliti Harvard School of Public Health dan University of Puerto Rico melaporkan laki-laki yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 40 inci (101,6 cm) memiliki risiko penyakit periodontal yang 19 persen lebih tinggi.

4. Menurunkan fungsi paru-paru
Studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2009 American Thoracic Society’s American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menunjukkan ukuran pinggang yang besar akan menyebabkan fungsi paru menurun, terlepas dari apakah ia seorang perokok, jenis kelamin, nilai BMI atau faktor komplikasi lainnya.

“Hasil studi ini menunjukkan bahwa ukuran pinggang yang besar berkaitan dengan FVC (forced expiratory vital capacity) yang lebih rendah,” ujar Paul Enright, MD dari University of Arizona.

5. Angka kematian yang lebih tinggi
New England Journal of Medicine mempublikasikan hasil studi risiko kematian dini yang berkaitan dengan ukuran pinggang lebih besar. Setiap kenaikan 1,94 inci (5 cm) meningkatkan risiko kematian sebesar 17 persen.

6. Sakit kepala migrain
Lingkar kepala yang lebih besar akan meningkatkan kesempatan untuk menderita migrain. Ukuran pinggang yang lebih bsar bahkan tanpa obesitas secara keseluruhan akan meningkatkan risiko sakit kepaal atau migrain parah.

sumber : detikHealth.com

Seorang guru mendatangi seorang muridnya yang belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit. “Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.  Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau. “Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya sudah pasti menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam.

Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

—————————————————————————————–

Disadur dari http://groups.yahoo.com/group/Motivasi_Net/message/399

“ …Tak ada batas meski kau berada di ujung sana. Karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia

Begitulah ungkapan yang terdapat dalam acara Seminar wajah perbatasan Indonesia yang diadakan pada hari kamis 28 april 2011 lalu. Seminar yang mengusung tema raising awareness, bridging affection ini diadakan di pusat studi jepang Universitas Indonesia. Dalam acara yang diselenggarakan atas dasar kerjasama antara Komunitas Sabantara dan Studi Klub Sejarah FIB UI ini bertujuan untuk menyingkap anggapan-anggapan miring tentang kondisi sebenarnya di kawasan perbatasan Indonesia serta membuka pandangan kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan Indonesia termasuk dalam bidang pendidikan.

Drs. Johanes Gluba Gebze, mantan bupati Merauke yang menjadi penerima penghargaan Nuga Jasadarma Pustaka atas usahanya mengembangkan perpustakaan dan menumbuhkan minat membaca masyarakat perbatasan merupakan salah satu pembicara dalam acara ini menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia masih belum menyeluruh hal ini terlihat jelas dengan adanya ketimpangan antara pendidikan di bagian barat Indonesia dan bagian timur Indonesia. Ketika banyak siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama yang tinggal di bagian barat Indonesia bisa memilih beberapa sekolah menengah umum untuk melanjutkan pendidikannya, siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama di bagian timur ada yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat sekolah menengah umum karena tidak adanya sekolah menengah umum disana. Selain itu, sebagai perbandingan ketika banyaknya siswa kelas 6 SD yang ada di bagian barat Indonesia mendapatkan pendidikan di sekolah bertaraf internasional bahkan tidak sedikit yang lancar menyebutkan kalimat dalam bahasa Inggris, siswa kelas 6 SD di bagian timur pun masih harus  mengeja dalam membaca kalimat dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya adalah bahasa nasionalnya sendiri.

Pertanyaan mendasar yang mungkin akan muncul adalah apa yang membuat hal itu terjadi?. Pada dasarnya pendidikan yang ada di wilayah timur contohnya di Merauke masih mengalami ketertinggalan. Hal ini tidak luput dari minimnya guru yang terdapat disana. Sebuah sekolah yang terdapat di salah satu kecamatan di papua misalnya, sekolah tersebut memiliki lokasi geografis yang kurang strategis sehingga menyebabkan para guru yang mengajar disana jarang untuk datang bahkan kepala sekolahnya pun tidak pernah ada di sekolah tersebut dan yang melakukan kegiatan belajar mengajar serta memberikan pengajaran kepada para siswa adalah penjaga sekolah tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut peran mahasiswa atau orang-orang yang terketuk hatinya untuk memberikan pengajaran kepada mereka sangatlah diperlukan. Sebagai contohnya, A. Wildan Masyhari yang merupakan salah satu pembicara dalam acara ini yang juga merupakan peserta K2NUI 2010 titik Entikong, Kalimantan Barat saat ini menjadi salah seorang relawan yang mengajar di Merauke pun dipandang sangat membantu dalam upaya memberikan pendidikan bagi masyarakat disana.

Beberapa fakta diatas menjelaskan bahwa cakupan pendidikan di Indonesia belum menyeluruh dan belum bisa dianggap bagus. Ketika kita ingin menilai pendidikan di Indonesia janganlah hanya melihat pendidikan di bagian barat saja tapi harus melihat ke bagian-bagian perbatasan karena ketika pendidikan di daerah yang minim akses pendidikan yang juga diperburuk dengan kondisi geografis itu telah bagus disitulah seluruhnya cakupan yang menyeluruh telah tercapai karena seharusnya tidak ada batas termasuk dalam bidang pendidikan meski kau berada di ujung sana, di perbatasan sekalipun, karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia.