Asosiasi Mahasiswa Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Archive for May, 2011

Berhentilah Menjadi Gelas

Seorang guru mendatangi seorang muridnya yang belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit. “Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.  Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau. “Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya sudah pasti menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam.

Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ditakar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

—————————————————————————————–

Disadur dari http://groups.yahoo.com/group/Motivasi_Net/message/399

Advertisements

Pendidikan di Daerah Perbatasan Indonesia

“ …Tak ada batas meski kau berada di ujung sana. Karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia

Begitulah ungkapan yang terdapat dalam acara Seminar wajah perbatasan Indonesia yang diadakan pada hari kamis 28 april 2011 lalu. Seminar yang mengusung tema raising awareness, bridging affection ini diadakan di pusat studi jepang Universitas Indonesia. Dalam acara yang diselenggarakan atas dasar kerjasama antara Komunitas Sabantara dan Studi Klub Sejarah FIB UI ini bertujuan untuk menyingkap anggapan-anggapan miring tentang kondisi sebenarnya di kawasan perbatasan Indonesia serta membuka pandangan kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan Indonesia termasuk dalam bidang pendidikan.

Drs. Johanes Gluba Gebze, mantan bupati Merauke yang menjadi penerima penghargaan Nuga Jasadarma Pustaka atas usahanya mengembangkan perpustakaan dan menumbuhkan minat membaca masyarakat perbatasan merupakan salah satu pembicara dalam acara ini menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia masih belum menyeluruh hal ini terlihat jelas dengan adanya ketimpangan antara pendidikan di bagian barat Indonesia dan bagian timur Indonesia. Ketika banyak siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama yang tinggal di bagian barat Indonesia bisa memilih beberapa sekolah menengah umum untuk melanjutkan pendidikannya, siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama di bagian timur ada yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat sekolah menengah umum karena tidak adanya sekolah menengah umum disana. Selain itu, sebagai perbandingan ketika banyaknya siswa kelas 6 SD yang ada di bagian barat Indonesia mendapatkan pendidikan di sekolah bertaraf internasional bahkan tidak sedikit yang lancar menyebutkan kalimat dalam bahasa Inggris, siswa kelas 6 SD di bagian timur pun masih harus  mengeja dalam membaca kalimat dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya adalah bahasa nasionalnya sendiri.

Pertanyaan mendasar yang mungkin akan muncul adalah apa yang membuat hal itu terjadi?. Pada dasarnya pendidikan yang ada di wilayah timur contohnya di Merauke masih mengalami ketertinggalan. Hal ini tidak luput dari minimnya guru yang terdapat disana. Sebuah sekolah yang terdapat di salah satu kecamatan di papua misalnya, sekolah tersebut memiliki lokasi geografis yang kurang strategis sehingga menyebabkan para guru yang mengajar disana jarang untuk datang bahkan kepala sekolahnya pun tidak pernah ada di sekolah tersebut dan yang melakukan kegiatan belajar mengajar serta memberikan pengajaran kepada para siswa adalah penjaga sekolah tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut peran mahasiswa atau orang-orang yang terketuk hatinya untuk memberikan pengajaran kepada mereka sangatlah diperlukan. Sebagai contohnya, A. Wildan Masyhari yang merupakan salah satu pembicara dalam acara ini yang juga merupakan peserta K2NUI 2010 titik Entikong, Kalimantan Barat saat ini menjadi salah seorang relawan yang mengajar di Merauke pun dipandang sangat membantu dalam upaya memberikan pendidikan bagi masyarakat disana.

Beberapa fakta diatas menjelaskan bahwa cakupan pendidikan di Indonesia belum menyeluruh dan belum bisa dianggap bagus. Ketika kita ingin menilai pendidikan di Indonesia janganlah hanya melihat pendidikan di bagian barat saja tapi harus melihat ke bagian-bagian perbatasan karena ketika pendidikan di daerah yang minim akses pendidikan yang juga diperburuk dengan kondisi geografis itu telah bagus disitulah seluruhnya cakupan yang menyeluruh telah tercapai karena seharusnya tidak ada batas termasuk dalam bidang pendidikan meski kau berada di ujung sana, di perbatasan sekalipun, karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia.