Asosiasi Mahasiswa Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Archive for the ‘mading AKK’ Category

Pendidikan di Daerah Perbatasan Indonesia

“ …Tak ada batas meski kau berada di ujung sana. Karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia

Begitulah ungkapan yang terdapat dalam acara Seminar wajah perbatasan Indonesia yang diadakan pada hari kamis 28 april 2011 lalu. Seminar yang mengusung tema raising awareness, bridging affection ini diadakan di pusat studi jepang Universitas Indonesia. Dalam acara yang diselenggarakan atas dasar kerjasama antara Komunitas Sabantara dan Studi Klub Sejarah FIB UI ini bertujuan untuk menyingkap anggapan-anggapan miring tentang kondisi sebenarnya di kawasan perbatasan Indonesia serta membuka pandangan kita tentang apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan Indonesia termasuk dalam bidang pendidikan.

Drs. Johanes Gluba Gebze, mantan bupati Merauke yang menjadi penerima penghargaan Nuga Jasadarma Pustaka atas usahanya mengembangkan perpustakaan dan menumbuhkan minat membaca masyarakat perbatasan merupakan salah satu pembicara dalam acara ini menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia masih belum menyeluruh hal ini terlihat jelas dengan adanya ketimpangan antara pendidikan di bagian barat Indonesia dan bagian timur Indonesia. Ketika banyak siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama yang tinggal di bagian barat Indonesia bisa memilih beberapa sekolah menengah umum untuk melanjutkan pendidikannya, siswa-siswi lulusan sekolah menengah pertama di bagian timur ada yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat sekolah menengah umum karena tidak adanya sekolah menengah umum disana. Selain itu, sebagai perbandingan ketika banyaknya siswa kelas 6 SD yang ada di bagian barat Indonesia mendapatkan pendidikan di sekolah bertaraf internasional bahkan tidak sedikit yang lancar menyebutkan kalimat dalam bahasa Inggris, siswa kelas 6 SD di bagian timur pun masih harus  mengeja dalam membaca kalimat dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya adalah bahasa nasionalnya sendiri.

Pertanyaan mendasar yang mungkin akan muncul adalah apa yang membuat hal itu terjadi?. Pada dasarnya pendidikan yang ada di wilayah timur contohnya di Merauke masih mengalami ketertinggalan. Hal ini tidak luput dari minimnya guru yang terdapat disana. Sebuah sekolah yang terdapat di salah satu kecamatan di papua misalnya, sekolah tersebut memiliki lokasi geografis yang kurang strategis sehingga menyebabkan para guru yang mengajar disana jarang untuk datang bahkan kepala sekolahnya pun tidak pernah ada di sekolah tersebut dan yang melakukan kegiatan belajar mengajar serta memberikan pengajaran kepada para siswa adalah penjaga sekolah tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut peran mahasiswa atau orang-orang yang terketuk hatinya untuk memberikan pengajaran kepada mereka sangatlah diperlukan. Sebagai contohnya, A. Wildan Masyhari yang merupakan salah satu pembicara dalam acara ini yang juga merupakan peserta K2NUI 2010 titik Entikong, Kalimantan Barat saat ini menjadi salah seorang relawan yang mengajar di Merauke pun dipandang sangat membantu dalam upaya memberikan pendidikan bagi masyarakat disana.

Beberapa fakta diatas menjelaskan bahwa cakupan pendidikan di Indonesia belum menyeluruh dan belum bisa dianggap bagus. Ketika kita ingin menilai pendidikan di Indonesia janganlah hanya melihat pendidikan di bagian barat saja tapi harus melihat ke bagian-bagian perbatasan karena ketika pendidikan di daerah yang minim akses pendidikan yang juga diperburuk dengan kondisi geografis itu telah bagus disitulah seluruhnya cakupan yang menyeluruh telah tercapai karena seharusnya tidak ada batas termasuk dalam bidang pendidikan meski kau berada di ujung sana, di perbatasan sekalipun, karena aku, kau, dia atau mereka, kita semua adalah Indonesia.

Advertisements

Kebijakan Jaminan Persalinan Nasional dalam Rangka Menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia

Salah satu indicator kesehatan dan kesejahteraan suatu rakyat di suatu Negara dapat dilihat dari angka kematian ibu (AKI) di Negara tersebut. Dalam pencapaian Millenium Development Goal (MDG) juga terdapat goal untuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 102/100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai oleh semua Negara pada tahun 2015. Untuk Indonesia sendiri, walaupun angka kematian ibu sudah menurun dibanding beberapa dekade lalu, pencapaian angka tersebut ditahun 2015 dirasa masih sangat mustahil karena angka kematian ibu di Indonesia masih terbilang tinggi, yaitu 228/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. (more…)

KEBIJAKAN TENTANG PEMBERIAN ASI SECARA EKSLUSIF

Berdasarkan data SDKI 1997 dan 2002, angka pemberian ASI Ekslusif 0-6 bulan oleh Ibu kepada bayi di Indonesia turun dari 42,4 %  menjadi 39,5%. Padahal, target MDG4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Berdasarkan dua penelitian, yaitu: Frongillo Pelletier dan LANCET Child Survival series, menyatakan bahwa kematian bayi karena kurang gizi bisa dicegah dengan memberikan ASI Ekslusif.  (more…)

Resensi Buku

Judul : Bisnis Orang Sakit
Penulis : Dedi Supratman dan Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Terbit : I, Maret 2010
Halaman: xi + 164 halaman
Harga : Rp34,000

Kelebihan: Buku ini dapat memberikan gambaran ril dari hukum kesehatan yang ada di Indonesia. Buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar terkait dengan kasus yang sedang dijelaskan. Hal ini akan menambah pemahaman pembaca mengenai isi buku ini.
Kelemahan: Buku ini menggunakan bahasa yang provokatif sehingga dapat membuat pembaca memiliki opini yang sama dengan penulis.
Kesehatan tergolong barang mewah di negeri ini. Obat, dokter dan rumah sakit seperti gurita yang mencengkram daya hidup orang miskin. Walau dicela berulang-ulang tapi rumah sakit masih jalankan praktek bisnis yang mengerikan. Uang dan bayaran seperti alat pengukur kesehatan seseorang. Meski Puskesmas dan Dinas Kesehatan memamerkan kepedulian: sulit dipungkiri orang miskin kesusahan berobat. Dengan dilandasi oleh serangkaian data yang mewah, buku ini kembali menegaskan fakta bahwa kesehatan orang miskin bukan urusan Negara. Kekejian sistem kesehatan ini bukan hanya dilindungi oleh kebijakan tapi dimanfaatkan juga oleh pelaku bisnisnya. Korporasi kesehatan yang telah menenggelamkan mandat dasar negeri ini: menyehatkan rakyatnya sendiri. Lagi-lagi kemudian kesehatan adalah proyek gurih yang melambungkan laba sekaligus membawa petaka, terutama untuk mereka yang miskin dan terbuang.

HOT ISSUE OF THE MONTH (April 2011)

Ada JAMPERSAL,, apakah AKI akan menurun???????????

2015 is coming soon…. What should I DO improve NOW???

Mendekati year of achievement (tahun pencapaian target),  isu MDGs makin giat berdengung dan diberdebatkan oleh berbagai negara di seluruh belahan dunia. Berbagai  argument dan prediksi pun muncul mengenai apakah target ini akan tercapai atau tidak? Tercapai sebagian atau semuanya? Negara mana saja yang mampu mencapai semua target dan negara mana yang tidak dapat? Dan tentunya pertanyaan paling urgent, apa yang bisa dilakukan dalam 5 tahun yang tersisa ini untuk mencapai target tersebut?

Di Indonesia, perbincangan mengenai pencapaian MDGs pun tidak kalah genting-nya oleh para praktisi kesehatan dan yang terlibat lainnya. Target penurunan angka kematian Ibu (peningkatan status kesehatan Ibu/ improve maternal health) menjadi isu MDGs paling mengkhawatirkan di negara ini. penurunan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup menjadi sangat sulit untuk dicapai menimbang penurunan angka kematian Ibu dari tahun ke tahun cenderung merangkak selama 10 tahun terakhir. Data terakhir dari SDKI pada tahun 2007 menyebutkan bahwa angka kematian Ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup, padahal target RPJMN adalah 226 per 100.000 kelahiran hidup. (more…)